Rabu, 18 Mei 2011

Soto Ayam Kenangan....

Kalau inget soto ayam, jadi inget masa lalu nih,  he he he...makanan menu ngirit jika ada tugas kelompok yg selalu di kerjakan di daerah Padjadjaran....klu g soto ayam ya lumpia basah..., ampe kecanduan deh soto ayam Jln. Padjadjaran Bandung ini ,tapi sayangnya sekarang dah g jualan lagi, kayanya wajib praktek sendiri deh, selain rasanya yg yummmy bahannya juga gampang di dapet , ya lumayan iritlah ...g perlu keluar modal yang banyak, ayo siapa mau praktek nihhhh...Selamat mencoba....


RESEP MASAKAN SOTO AYAM
Bahan:
  1. ½ ekor ayam, potong-potong
  2. 1500 cc air
  3. 1 cm jahe, memarkan
  4. 1 cm kunyit, memarkan
  5. 6 siung bawang putih, haluskan
  6. Daun bawang secukupnya
  7. 2 batang serai, memarkan
  8. 5 lembar daun jeruk purut
  9. 5 lembar daun salam 
  10. ½ sendok teh lada bubuk
  11. ½ sendok teh kaldu ayam bubuk
  12. 1 sendok teh garam
  13. 1 sendok teh penyedap rasa,( jika suka tapi klu g pake juga mantap ko)
  14. Minyak goreng secukupnya
Pelengkap:
  1. 150 gram soun, seduh (bisa di ganti bihun)
  2. 250 gram kripik kentang (bisa di ganti kerupuk udang)
  3. 2 butir telur rebus sesuai selera
  4. 1 batang seladri, iris halus
  5. Bawang goreng secukupnya
  6. 100 gram taoge
  7. 2 buah jeruk nipis, potong- potong
Cara Membuat Resep Masakan Soto Ayam Bening:
  1. Rebus ayam hingga empuk, angkat.
  2. Tumis bawang putih hingga harum, masukkan serai, jahe, lada, daun jeruk, lada, kaldu ayam, penyedap rasa. Masukkan kedalam air rebusan ayam. MAsak hingga mendidih. Angkat.
  3. Tata dimangkuk soun, taoge, telur rebus, ayam, tuang kuah ayam. Taburkan bawang goreng, daun seladri, kripik kentang, beri perasan jeruk nipis.
  4. Hidangkan. 
  5. jgn lupa membuat sambalnya. 

Menjadi Seorang Pemaaf

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta jangan pedulikan orang-orang yang bodoh." (QS. Al-A'raaf  7:199)

"Tetapi barang siapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia." (QS Asy-Syuura 42:43)

Dari ayat inilah aq di sadarkan betapa memaafkan itu sangat mulia...

Begitu banyak orang yang berkata aq telah memaafkan seseorang yang menyakitiq, namun ternyata perlu waktu lama untuk membebaskan diri dari rasa benci dan marah dalam hati ini. Apa ini terlalu berlebihan, tapi inilah kenyataan yg kualami, padahal sikap memaafkan orang-orang yang beriman adalah dengan ketulusan dan bisa melupakan kejadian apapun yg telah menimpa. 

Bukankah  manusia akan selalu mendapatkan ujian ??? Hmmmm.... jadi teringat satu pepatah "Qt adalah mahasiswa abadi dan wisudanya adalah akherat", sangat dalam sekali makna dari pepatah ini, dan  memang benar ,bahwa qt akan terus mendapatkan ujian, tinggal bagaimana qt mampu menyikapinya, Sebenarnya tidak ada masalah dengan masalah yg terpenting adalah bagaimana qt mampu menyikapinya, jadi mengapa harus sulit untuk memaafkan karena semua yang terjadi adalah kehendak Allah, dan berjalan sesuai takdir, bukankah dgn memaafkan qt  berserah diri dengan peristiwa yang terjadi dan sekaligus qt mampu merealisasikan keikhlasan....

Untuk semua orang yang pernah menyakitiq, InsyaAlloh aq telah memaafkan kalian.....

Selasa, 17 Mei 2011

Sambel Tempe Teri


 Dapet oleh2 teri medan nih, hmmmm lumayan banyak nih.....Teri Medan ini klu di goreng saja sudah enak apalagi kalau di kombinasikan dgn bahan lainnya...wah kudu  nyari resepnya nih...dan akhirnya dapet juga deh dari Nova......Okkaay deh qt siap praktekkan....




Bahan2 Sambal Tempe Teri :
  • 150 gr tempe, potong tipis, goreng
  • 4-5 sdm teri medan, goreng
  • 4 cabe merah besar, buang biji, iris halus
  • 1-2 sdt gula merah, sisir halus
  • 1 sdm kecap manis
  • 2 sdm minyak, untuk menumis
Bumbu Halus Sambal Teri Tempe :
  • 4 bawang merah
  • 2 bawang putih
  • 4 cabe merah keriting
  • 1 sdt garam
Cara Membuat Sambal Teri Tempe :
  1. Tumis bumbu halus hingga harum.
  2. Kemudian masukkan cabe iris, aduk sampai cukup layu.
  3. Tambahkan gula dan kecap, cicipi rasanya. Angkat.
  4. Tuang bumbu yg telah ditumis ke dalam ulekan.
  5. Tambahkan teri dan tempe yang telah digoreng.
  6. Kemudian ulek kasar hingga tercampur.
  7. Sajikan bersama sayuran rebus.



Oseng Jagung muda

Ahhaa ini salah satu makanan favorite juga, masaknya gampang dan bahan2nya mudah di dapat...
ayoooo siap2 qt masak....
bahan2 sebagai berikut :
  • 100 gr jagung muda, belah 2 memanjang
  • 100 gr udang kupas (jika suka) g pake juga gpp ato pake sosis
  • 2 cabe besar, iris memanjang
  • 1/4 bawang bombay, iris memanjang
  • 2 bawang putih,cincang
  • 50-75 ml kaldu ayam (jika suka) klu g suka air putih aja
  • garam
  • gula pasir
  • merica
  • 1 sdm minyak, untuk menumis
Cara membuat Tumis Jagung Muda :
  1. Tumis bawang bombay dan bawang putih hingga harum.
  2. Masukkan udang, aduk hingga berubah warna.
  3. Tambahkan cabe dan jagung muda.
  4. Tuang kaldu ayam dan bumbu.
  5. Masak sebentar dengan api besar, sampai jagung muda cukup matang.
  6. (Jaga jangan sampai terlalu layu)

Chicken Nugget Untuk keluargaq....

Chicken nugget adalah makanan kesukaan anak2ku Azka dan Salwa, jika ada nugget ini mereka sangat lahap untuk makan, terlintas di benak dan pikiranq apa ini bagus jika di komsumsi terus menerus, toh tidak menjaminkan  nugget yg di beli, bebas dari bahan pengawet dan juga tentunya ada kandungan msgnya...

Kenapa g di coba bikin sendiri aja ya,..... hmmm kan sebenernya gampang juga apalagi resepnya sudah di dapat, hayooo qt siap praktekkan !!!!

Ini lho bahan2nya..:
  • 500 gram daging ayam giling
  • 2 butir telur kocok
  • 4-5 roti tawar tanpa kulit
  • 1-2 buah wortel diparut (jika suka)
  • Keju parut (jika suka)
  • Merica bubuk (secukupnya)
  • 100 ml air matang / susu cair (jika suka)
  • Garam (secukupnya)
  • 4 siung bawang putih (dihaluskan)
  • Bawang bombay sesuai selera
  • Gula pasir (sedikit saja)
 Bahan untuk menggoreng :
  • Minyak goreng
  • Tepung panir
  • Telur dikocok
Cara membuat :
  • Campur semua bahan dari mulai ayam sampai dengan gula pasir, aduk sampai rata.
  • Siapkan loyang ukuran 20 cm dan olesi dengan mentega.
  • Tuang adonan ke dalam loyang, ratakan lalu kukus selama ± 20 -30 menit.
  • Setelah masak, dinginkan lalu potong-potong sesuai selera atau dibentuk dengan cetakan agar lebih menarik.
  • Celupkan dalam kocokan telur dan balur dengan tepung panir lalu goreng hingga kecoklatan.
  • Sajikan dan nikmati selagi hangat.

Selamat mencoba.....Jgn lupa sausnya.....

Jumat, 15 April 2011

Di sini, di Dalam Jiwa Ini

Saudaraku,
Kita banyak tahu tentang kebaikan. Bahkan kita sering ingin melakukannya. Tapi jujur saja, kita masih lebih sering gagal untuk menunaikannya. Seperti juga keburukan. Kita tahu bahwa itu tidak boleh dilakukan. Tetapi, mungkin saja kita justru terdorong untuk melakukannya. Kita sering lepas kendali mengawal diri sendiri.

Sulit mengatasi kecendrungan yang berulang kali mengajak pada suasana yang sebenarnya kita sendiri tidak ingin ada didalamnya. Entahlah, seolah ada kekuasaan lain yang lebih kuat dalam membentuk dan mengendalikan diri kita. Itulah inti masalah yang kita hadapi. Kita kerap gagal dan tak mampu mengendalikan diri kita sendiri. Tepat, seperti ungkapan orang-orang bijak, "Musuh kita adalah diri kita sendiri."

Padahal kemampuan mengendalikan diri, menurut Rasulullah SAW, adalah parameter seseorang untuk bisa disebut kuat atau lemah. "Orang yang kuat itu bukan orang yang menang dalam pertarungan, tapi orang yang mampu mengendalikan amarahnya."

Amru bin Ahtam, seorang ulama di kalangan Tabi'in, menyebut orang yang mampu menundukkan nafsunya dengan istilah 'asyja'u rajul, atau orang yang paling berani. Ia pernah ditanya oleh Mu'awiyah ra, "Siapa orang yang paling berani?" Amru bin Athtam menjawab, "Orang yang bisa menolak kebodohan dirinya dengan sikap lapang dada yang dimilikinya. Dialah orang yang paling berani." (al-hilm, Ibnu Abi Dunia, 31).

Saudaraku, semoga Allah senantiasa memberi kekuatan iman pada kita.

Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan kepemimpinan pada diri sendiri? Jawabannya sama dengan apa yang harus kita lakukan ketika berhadapan dengan musuh. Tak ada jalan lain, kecuali diperangi. Para ulama kerap mengistilahkan perang batin ini dengan mujahadah. Perang batin jelas berbeda dengan perang zahir. Musuh di perang zahir dapat dilihat dan tipu dayanya bisa diidentifikasi lewat akal dan penglihatan kita. Tapi musuh batin sungguh jauh berbeda.

Dalam beberapa sisi, perang melawan batin bahkan jauh lebih hebat dibanding perang zahir. Alasannya, medan perangnya ada di dalam diri kita sendiri. Serangan, tikaman dan ledakannya bisa terjadi dalam diri kita, setiap waktu dan bisa bertubi-tubi, walaupun tidak terdengar dentumannya, tapi akibatnya sangat berbahaya. Justru, kebanyakan orang yang mampu mengalahkan musuh, Ia tak mampu menundukkan hawa nafsunya sendiri.

Saudaraku,
Kita akan semakin mengerti, betapa hebatnya perang melawan hawa nafsu yang sulit dideteksi. Seorang pemuda pernah bertanya pada Ustadz Fathy Yakan, juru dakwah terkenal asal Jordania. "Saya gagal, putus asa, tidak sempurna dalam berbagai amal karena saya selalu dihantui perasaan riya." kata pemuda itu. Ia bahkan berniat akan mengurangi amal ibadah dan aktivitas dakwahnya supaya tidak terjerumus pada sikap riya.

Ustadz Fathy Yakan menjawab, "Siapa manusia yang tidak pernah terganggu oleh bisikan riya? Kita manusia. Semua kita mengalaminya." ia lantas mengutip sebuah hadist Rasulullah SAW, "Andai manusia tidak melakukan kesalahan niscaya Allah akan datangkan suatu kaum yang melakukan kesalahan kemudian mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka." (HR. Muslim dan Ahmad).

Tentu saja hadits itu tidak untuk menyepelekan sebuah dosa, termasuk riya. Tapi hadits itu lebih mengarahkan pada dorongan untuk melakukan perbaikan dan taubat. Fathy Yakan mengatakan, "Ibadah dan amal kebaikan itu sendiri merupakan bagian dari terapi yang ampuh atas dosa yang engkau lakukan."

Saudaraku...
Perhatikan bagaimana jawaban Rasulullah yang sangat jelas tatkala ada seorang pemuda bertanya padanya, "Ya Rasulullah, bagaimana jika ada seseorang yang melakukan shalat malam, tapi di waktu siang ia mencuri?" Apa jawab Rasulullah? "Amaluhu yanhahu amma taqulu." Amal ibadahnya akan menghalanginya mencuri. Singkat sekali.

Jawaban ini sama seperti yang pernah dikatakan oleh seorang salafushalih tatkala seseorang bertanya padanya, "Mana yang lebih baik apakah saya melakukan sujud tilawah namun orang-orang melihat saya dan saya khawatir riya, atau saya tidak melakukan sujud sehingga saya terhindar dari riya?" Orang shalih itu menjawab, "Lakukan sujud tilawah dan lawan bisikan syaitan dalam dirimu!"

Saudaraku,
Apa inti jawaban para ulama terhadap rongrongan hawa nafsu itu? Lawan. Jangan pernah menyerah terhadap dorongan negatif hawa nafsu. Ini adalah perang yang tak pernah usai dan tak boleh berhenti. Berhenti atau mengurangi amal dan ibadah, berarti keluar dari lingkup pemeliharaan dan perlindungan Allah SWT. Artinya, seseorang akan cenderung terpuruk lebih jauh dari apa yang dikeluhkan akibat melakukan kesalahan. Ia telah memilih jalan ke arah kesesatan, bukan jalan hidayah. Semoga Allah menghindarkan kita semua dari pilihan seperti itu.

Saudaraku,
Tentu saja kita harus tetap memikirkan sebab-sebab yang menjadikan kita terjerumus pada suatu dosa. Ini penting karena menurut Hasan al-Bashri, "Seseorang hamba selalu berada dalam kebaikan selama ia mengetahui apa yang merusak amal-amalnya." Ini adalah awal cara untuk mengobati semua masalah, yakni dengan mengetahui sebabnya. Bahkan ini juga merupakan salah satu bagian dari terapi kesalahan kita. Itulah yang diutarakan oleh Wahib bin Wurd, "Inna min shalahi nafsi, ilmii bifasaadihaa..." Sesungguhnya termasuk kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang kerusakan jiwaku.

Duhai, betapa indah dan bijaknya nasihat sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib ra : "Hati ini terkadang memiliki kecendrungan menerima dan terkadang menolak. Bila ia dalam kondisi menerima, ajak ia untuk melakukan ibadah yang sunnah. Tapi bila ia dalam kondisi menolak, ajak dia untuk melakukan yang wajib saja. Sampai kondisi menolak itu hilang, ajaklah kembali ia melakukan yang sunnah."

Saudaraku...
Genderang perang itu telah lama berlalu di sini, di dalam jiwa kita ini. Bersiap siagalah selalu...

Kota Santri