Jumat, 15 April 2011

Di sini, di Dalam Jiwa Ini

Saudaraku,
Kita banyak tahu tentang kebaikan. Bahkan kita sering ingin melakukannya. Tapi jujur saja, kita masih lebih sering gagal untuk menunaikannya. Seperti juga keburukan. Kita tahu bahwa itu tidak boleh dilakukan. Tetapi, mungkin saja kita justru terdorong untuk melakukannya. Kita sering lepas kendali mengawal diri sendiri.

Sulit mengatasi kecendrungan yang berulang kali mengajak pada suasana yang sebenarnya kita sendiri tidak ingin ada didalamnya. Entahlah, seolah ada kekuasaan lain yang lebih kuat dalam membentuk dan mengendalikan diri kita. Itulah inti masalah yang kita hadapi. Kita kerap gagal dan tak mampu mengendalikan diri kita sendiri. Tepat, seperti ungkapan orang-orang bijak, "Musuh kita adalah diri kita sendiri."

Padahal kemampuan mengendalikan diri, menurut Rasulullah SAW, adalah parameter seseorang untuk bisa disebut kuat atau lemah. "Orang yang kuat itu bukan orang yang menang dalam pertarungan, tapi orang yang mampu mengendalikan amarahnya."

Amru bin Ahtam, seorang ulama di kalangan Tabi'in, menyebut orang yang mampu menundukkan nafsunya dengan istilah 'asyja'u rajul, atau orang yang paling berani. Ia pernah ditanya oleh Mu'awiyah ra, "Siapa orang yang paling berani?" Amru bin Athtam menjawab, "Orang yang bisa menolak kebodohan dirinya dengan sikap lapang dada yang dimilikinya. Dialah orang yang paling berani." (al-hilm, Ibnu Abi Dunia, 31).

Saudaraku, semoga Allah senantiasa memberi kekuatan iman pada kita.

Apa yang harus kita lakukan untuk mengembalikan kepemimpinan pada diri sendiri? Jawabannya sama dengan apa yang harus kita lakukan ketika berhadapan dengan musuh. Tak ada jalan lain, kecuali diperangi. Para ulama kerap mengistilahkan perang batin ini dengan mujahadah. Perang batin jelas berbeda dengan perang zahir. Musuh di perang zahir dapat dilihat dan tipu dayanya bisa diidentifikasi lewat akal dan penglihatan kita. Tapi musuh batin sungguh jauh berbeda.

Dalam beberapa sisi, perang melawan batin bahkan jauh lebih hebat dibanding perang zahir. Alasannya, medan perangnya ada di dalam diri kita sendiri. Serangan, tikaman dan ledakannya bisa terjadi dalam diri kita, setiap waktu dan bisa bertubi-tubi, walaupun tidak terdengar dentumannya, tapi akibatnya sangat berbahaya. Justru, kebanyakan orang yang mampu mengalahkan musuh, Ia tak mampu menundukkan hawa nafsunya sendiri.

Saudaraku,
Kita akan semakin mengerti, betapa hebatnya perang melawan hawa nafsu yang sulit dideteksi. Seorang pemuda pernah bertanya pada Ustadz Fathy Yakan, juru dakwah terkenal asal Jordania. "Saya gagal, putus asa, tidak sempurna dalam berbagai amal karena saya selalu dihantui perasaan riya." kata pemuda itu. Ia bahkan berniat akan mengurangi amal ibadah dan aktivitas dakwahnya supaya tidak terjerumus pada sikap riya.

Ustadz Fathy Yakan menjawab, "Siapa manusia yang tidak pernah terganggu oleh bisikan riya? Kita manusia. Semua kita mengalaminya." ia lantas mengutip sebuah hadist Rasulullah SAW, "Andai manusia tidak melakukan kesalahan niscaya Allah akan datangkan suatu kaum yang melakukan kesalahan kemudian mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka." (HR. Muslim dan Ahmad).

Tentu saja hadits itu tidak untuk menyepelekan sebuah dosa, termasuk riya. Tapi hadits itu lebih mengarahkan pada dorongan untuk melakukan perbaikan dan taubat. Fathy Yakan mengatakan, "Ibadah dan amal kebaikan itu sendiri merupakan bagian dari terapi yang ampuh atas dosa yang engkau lakukan."

Saudaraku...
Perhatikan bagaimana jawaban Rasulullah yang sangat jelas tatkala ada seorang pemuda bertanya padanya, "Ya Rasulullah, bagaimana jika ada seseorang yang melakukan shalat malam, tapi di waktu siang ia mencuri?" Apa jawab Rasulullah? "Amaluhu yanhahu amma taqulu." Amal ibadahnya akan menghalanginya mencuri. Singkat sekali.

Jawaban ini sama seperti yang pernah dikatakan oleh seorang salafushalih tatkala seseorang bertanya padanya, "Mana yang lebih baik apakah saya melakukan sujud tilawah namun orang-orang melihat saya dan saya khawatir riya, atau saya tidak melakukan sujud sehingga saya terhindar dari riya?" Orang shalih itu menjawab, "Lakukan sujud tilawah dan lawan bisikan syaitan dalam dirimu!"

Saudaraku,
Apa inti jawaban para ulama terhadap rongrongan hawa nafsu itu? Lawan. Jangan pernah menyerah terhadap dorongan negatif hawa nafsu. Ini adalah perang yang tak pernah usai dan tak boleh berhenti. Berhenti atau mengurangi amal dan ibadah, berarti keluar dari lingkup pemeliharaan dan perlindungan Allah SWT. Artinya, seseorang akan cenderung terpuruk lebih jauh dari apa yang dikeluhkan akibat melakukan kesalahan. Ia telah memilih jalan ke arah kesesatan, bukan jalan hidayah. Semoga Allah menghindarkan kita semua dari pilihan seperti itu.

Saudaraku,
Tentu saja kita harus tetap memikirkan sebab-sebab yang menjadikan kita terjerumus pada suatu dosa. Ini penting karena menurut Hasan al-Bashri, "Seseorang hamba selalu berada dalam kebaikan selama ia mengetahui apa yang merusak amal-amalnya." Ini adalah awal cara untuk mengobati semua masalah, yakni dengan mengetahui sebabnya. Bahkan ini juga merupakan salah satu bagian dari terapi kesalahan kita. Itulah yang diutarakan oleh Wahib bin Wurd, "Inna min shalahi nafsi, ilmii bifasaadihaa..." Sesungguhnya termasuk kebaikan jiwaku adalah pengetahuanku tentang kerusakan jiwaku.

Duhai, betapa indah dan bijaknya nasihat sahabat Rasulullah SAW, Ali bin Abi Thalib ra : "Hati ini terkadang memiliki kecendrungan menerima dan terkadang menolak. Bila ia dalam kondisi menerima, ajak ia untuk melakukan ibadah yang sunnah. Tapi bila ia dalam kondisi menolak, ajak dia untuk melakukan yang wajib saja. Sampai kondisi menolak itu hilang, ajaklah kembali ia melakukan yang sunnah."

Saudaraku...
Genderang perang itu telah lama berlalu di sini, di dalam jiwa kita ini. Bersiap siagalah selalu...

Kota Santri

Love Is Not Always Has Been Formed Flowers

Suami saya adalah seorang insinyur, saya mencintai sifatnya yang alami dan saya menyukai perasaan hangat yang muncul di hati saya ketika saya bersandar di bahunya yang bidang.

Tiga tahun dalam masa perkenalan, dan dua tahun dalam masa pernikahan, saya harus akui, bahwa saya mulai merasa lelah, alasan-alasan saya mencintainya dulu telah berubah menjadi sesuatu yang menjemukan.

Saya seorang wanita yang sentimentil dan benar-benar sensitif serta berperasaan halus. Saya merindukan saat-saat romantis seperti seorang anak yang menginginkan permen. Tetapi semua itu tidak pernah saya dapatkan. Suami saya jauh berbeda dari yang saya harapkan. Rasa sensitif-nya kurang. Dan ketidakmampuannya dalam menciptakan suasana yang romantis dalam pernikahan kami telah mementahkan semua harapan saya akan cinta yang ideal.

Suatu hari, saya beranikan diri untuk mengatakan keputusan saya kepadanya, bahwa saya menginginkan perceraian.

"Mengapa?", dia bertanya dengan terkejut.

"Saya lelah, kamu tidak pernah bisa memberikan cinta yang saya inginkan"

Dia terdiam dan termenung sepanjang malam di depan komputernya, tampak seolah-olah sedang mengerjakan sesuatu, padahal tidak.

Kekecewaan saya semakin bertambah, seorang pria yang bahkan tidak dapat mengekspresikan perasaannya, apalagi yang bisa saya harapkan darinya? Dan akhirnya dia bertanya, "Apa yang dapat saya lakukan untuk merubah pikiranmu?".

Saya menatap matanya dalam-dalam dan menjawab dengan pelan, "Saya punya pertanyaan, jika kau dapat menemukan jawabannya di dalam hati saya, saya akan merubah pikiran saya: Seandainya, saya menyukai setangkai bunga indah yang ada di tebing gunung dan kita berdua tahu jika kamu memanjat gunung itu, kamu akan mati. Apakah kamu akan melakukannya untuk saya?"

Dia termenung dan akhirnya berkata, "Saya akan memberikan jawabannya besok."

Hati saya langsung gundah mendengar responnya.

Keesokan paginya, dia tidak ada dirumah, dan saya menemukan selembar kertas dengan oret-oretan tangannya dibawah sebuah gelas yang berisi susu hangat yang bertuliskan....

"Sayang, saya tidak akan mengambil bunga itu untukmu, tetapi ijinkan saya untuk menjelaskan alasannya."

Kalimat pertama ini menghancurkan hati saya. Saya melanjutkan untuk membacanya.

"Kamu bisa mengetik di komputer dan selalu mengacaukan program di PC-nya dan akhirnya menangis di depan monitor, saya harus memberikan jari-jari saya supaya bisa membantumu dan memperbaiki programnya."

"Kamu selalu lupa membawa kunci rumah ketika kamu keluar rumah, dan saya harus memberikan kaki saya supaya bisa mendobrak pintu, dan membukakan pintu untukmu ketika pulang."

"Kamu suka jalan-jalan ke luar kota tetapi selalu nyasar di tempat-tempat baru yang kamu kunjungi, saya harus menunggu di rumah agar bisa memberikan mata saya untuk mengarahkanmu."

"Kamu selalu pegal-pegal pada waktu 'teman baikmu' datang setiap bulannya, dan saya harus memberikan tangan saya untuk memijat kakimu yang pegal."

"Kamu senang diam di rumah, dan saya selalu kuatir kamu akan menjadi 'aneh'. Dan harus membelikan sesuatu yang dapat menghiburmu di rumah atau meminjamkan lidahku untuk menceritakan hal-hal lucu yang aku alami."

"Kamu selalu menatap komputermu, membaca buku dan itu tidak baik untuk kesehatan matamu, saya harus menjaga mata saya agar ketika kita tua nanti, saya masih dapat menolong mengguntingkan kukumu dan mencabuti ubanmu."

"Tanganku akan memegang tanganmu, membimbingmu menelusuri pantai, menikmati matahari pagi dan pasir yang indah. Menceritakan warna-warna bunga yang bersinar dan indah seperti cantiknya wajahmu".

"Tetapi sayangku, saya tidak akan mengambil bunga itu untuk mati. Karena, saya tidak sanggup melihat air matamu mengalir menangisi kematianku."

"Sayangku, saya tahu, ada banyak orang yang bisa mencintaimu lebih dari saya mencintaimu."

"Untuk itu sayang, jika semua yang telah diberikan tanganku, kakiku, mataku, tidak cukup bagimu. aku tidak bisa menahan dirimu mencari tangan, kaki, dan mata lain yang dapat membahagiakanmu."

Air mata saya jatuh ke atas tulisannya dan membuat tintanya menjadi kabur, tetapi saya tetap berusaha untuk membacanya.

"Dan sekarang, sayangku, kamu telah selasai membaca jawaban saya. Jika kamu puas dengan semua jawaban ini, dan tetap menginginkanku untuk tinggal di rumah ini, tolong bukakan pintu rumah kita, saya sekarang sedang berdiri disana menunggu jawabanmu."

"Jika kamu tidak puas, sayangku, biarkan aku masuk untuk membereskan barang-barangku, dan aku tidak akan mempersulit hidupmu. Percayalah, bahagiaku bila kau bahagia."

Saya segera berlari membuka pintu dan melihatnya berdiri di depan pintu dengan wajah penasaran sambil tangannya memegang susu dan roti kesukaanku. Oh, kini saya tahu, tidak ada orang yang pernah mencintai saya lebih dari dia mencintaiku.

Itulah cinta, di saat kita merasa cinta itu telah berangsur-angsur hilang dari hati kita karena kita merasa dia tidak dapat memberikan cinta dalam wujud yang kita inginkan, maka cinta itu sesungguhnya telah hadir dalam wujud lain yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Seringkali yang kita butuhkan adalah memahami wujud cinta dari pasangan kita, dan bukan mengharapkan wujud tertentu.

"Karena cinta tidak selalu harus berwujud "bunga".

Milis Pengembangan-Kepribadian

Terima Kasih Azka.....

Seperti biasa rasa pegal di kaki dan di tangan ini mulai terasa lagi, hal yang terlintas di pikiran adalah merendam kaki dgn air panas di tambah garam, itu yg yg sering kulakukan karena sudah merasakan khasiatnya, dari pada harus pergi ke dr, paling nanti di kasih obat lagi dan obat lagi....

Malam itu aq pergi ke dapur untuk memasak air, dan setelah mendidih mulailah menunggu air itu agak tdk terlalu panas, perlahan-lahan mulai memasukan tangan dan tiba2 saya sedikir merintih awwwww panas n sakit yg kurasakan, kemudian mulai memasukan kaki ini tiba2 secara spontan menjerit lagi dgn suara agak keras awwwww panasss sakiiit.....mulai ku angkat lagi kaki dan tangan ini sampai berkali-kali , tiba2 azka muncul dan berkata :

azka     : ummi panas ya airnya.....
ummi    : ia a, panaaaas banget malah ada rasa sakitnya..
azka     : tapikan inikan masih panasnya air dunia, gimana nanti klu di neraka
ummi    : iya bener banget a, klu di neraka nanti bisa berlipat ganda panasnya, g ada yg bisa nolong qt kecuali amal shaleh

Sejenak termenung n kaget, masya Alloh azka sudah bisa berkata seperti itu....
ini teguran buatq, begitu banyak dosa yg telah q lakukan sementara bekalq untuk nanti masih sangat sedikit.....Ya Alloh berilah keistiqomahan agar aq selalu berada di jalanMu.......

Terima kasih azka sudah mengingatkan ummi,  teguran ini sangat bermakna buat ummi...semoga ummi bisa menjadi lebih baik lagi.....I Love U ......

Kamis, 14 April 2011

KEGAGALAN BUKAN BERARTI ANDA GAGAL



Kegagalan bukan berarti Anda gagal.
Akan tetapi..... Anda belum sukses.....!

Kegagalan bukan berarti Anda tidak mencapai apa-apa.
Akan tetapi..... Anda sudah mempelajari sesuatu....!

Kegagalan bukan berarti Anda bodoh karena pernah mencoba.
Itu pertnda Anda berhati teguh, bersemangat baja,
maka berbanggalah dengan diri Anda sendiri.

Kegagalan bukan berarti Anda tidak akan sukses.
Akan tetapi,,,,, di butuhkan kesabaran.....!

Kegagalan bukan berarti Anda sudah berakhir.
Akan tetapi...... Anda masih memiliki peluang untuk memulainya kembali,
dan berusaha mencari sesuatu yang baru.....!

Kegagalan bukan berarti Sang Pencipta sudah meninggalkan Anda.
Akan tetapi..... Dia mempunyai rencana yang jauh lebih baik dari apa yang Anda bayangkan

Note kiriman dari Jens Imut

RAJA MENJADI TUKANG KEBUN

Alkisah adalah seorang raja yang sangat besar kekuasaannya. Oleh karena kehidupan yang mewah dan serba cukup tidak membuat ketenangan kepada jiwanya. Sang raja akhirnya memilih untuk hidup sebagai rakyat biasa dengan menyamar sebagai tukang kebun.

Sang Raja akhirnya bekerja di salah seorang saudagar kaya yang mempunyai kebun delima yang cukup luas. Ia pun menjaga kebun itu dengan patuh dan rajin. Suatu hari datanglah tuan kebun itu dan meminta pekerja kebun membawakan sebiji delima yang masak lagi manis kepadanya. Pekerja itu pun segera menuju ranting-ranting delima untuk mencari buah delima yang paling masak.

Kemudian tuannya memakan delima tersebut, air mukanya berubah. Kemudian berkata: "Wahai pekerjaku tolong bawakan kepadaku sebiji delima yang lebih manis dari ini."

Sekali lagi, sang raja yang menjadi tukang kebun tadi pergi mencari buah delima yang lain tanpa mengetahui mengapa tuannya menyuruh dia membawakan sebiji lagi. Setelah buah yang diberikan kepada tuannya itu dimakan, dengan spontan buah itu dibuang oleh tuannya itu.

Oleh karena terlalu marah sebab buah yang dimakannya itu ternyata masih masam, ia pun berkata dengan suara yang keras: "Wahai pekerja! Heran sekali aku melihat engkau. Sudah begini lama engkau menjaga kebunku, tidakkah engkau tahu yang masam dan manis?"
Lalu jawab sang raja tadi dengan suara yang lemah dan sopan : "Tuan, bukankah saya ini diamanahkan untuk menjaga kebun supaya senantiasa subur buah-buahan, tetapi tuan tidak memberi izin kepada saya untuk mencicipi buahnya."

Betapa terkejutnya tuannya itu setelah mendengar jawaban tersebut. Tidak terduga sama sekali akan besarnya sifat amanah yang ada pada tukang kebunnya itu. Namun, alahngkah terkejutnya sang tuan tatkala mengetahui bahwa pekerja kebunnya adalah seorang raja mahsyur yang memang tengah mencari kehidupan sebagai rakyat biasa.

Sang tuan pun akhirnya menyadari bahwa memang pantaslah ia menjadi seorang raja yang terkenal bijak seantero negri. Jadi rakyat kecilpun beliau bisa betul-betul menjaga pekerjaannya walau sangat sepele. Ia pun segera meminta maaf dan sekaligus mendoakan sang raja.


Renungan :

Sahabat....
Kisah tersebut diatas merupakan salah satu refleksi bagaimana seorang manusia dengan sangat amanah dalam menjalani pekerjaannya. Lantas bagaimana dengan kita ?

Tentu para sahabat sangat mengerti bagaimana seharusnya kita menjaga amanah dalam setiap pekerjaan. sekecil apapun itu, namun nilainya sangat berharga. Dari seorang pekerja bahkan pemimpin pun sangat diperlukan sikap ini.

Kembali kepada hati nurani masing-masing, bagaimana kita bisa jujur sekecil apapun dengan apa yang kita lakukan, Tentu Allah lah yang menilai dan membalas atas semua yang kita lakukan.

” Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul dan janganlah kamu mengkhianati amanah- amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. ” (Al Anfaal : 27 )

” Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. ”
(Al Anfaal : 58 )

“ Jika kamu berbuat baik berarti kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan  itu bagi dirimu sendiri. ”
( Al Israa' : 7 )

“ Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”
( Ar Rahmaan : 60 )


Sahabat...
Seperti yg dikatakan oleh Aa Gym, sederhana namun bermakna :
"Mulai dari diri kita sendiri dan mulailah saat ini"

Semoga bermanfaat….!

Note kiriman dari Jens Imut

3 HAL DALAM HIDUP YANG TAK PERNAH KEMBALI



1. WAKTU
Kita tak bisa memutar kembali waktu, tapi kita bisa menciptakan kenangan dengan waktu yang masih kita punya dan memanfaatkan waktu yang ada, walau sebentar, untuk menciptakan kenangan yang berarti^^

Time is free but it’s priceless, u can’t own it but u can use it. U can’t keep it but u can spend it =)

2. PERKATAAN
Kita tak bisa menarik ucapan kasar yang keluar dari mulut kita atau statement yang telah membuat harga diri kita lebih penting dari pada menariknya kembali dan mengucapkan maaf.
Kita tak bisa menghapus caci maki yang telah kita katakan hingga membuat orang lain marah, terluka atau menangis. Tapi kita bisa membuat apa yang selanjutnya keluar dari mulut kita menjadi lebih banyak pujian dibanding caci maki, lebih banyak syukur dan terima kasih dari pada keluhan atau komplain, dan lebih banyak nasihat positif dari pada sulutan amarah^^

3. KESEMPATAN
Kita tak bisa mendapatkan kembali kesempatan yang sudah kita lewatkan. Tapi kita bisa menciptakan peluang untuk membuat kesempatan-kesempatan lain datang dalam hidup kita dengan lebih memperhatikannya^^ 

 Note kiriman dari Holib Rangga Merdeka